Kamis, 11 April 2013 , 10:40:00


BALIKPAPAN-Di kota Beriman yang tenang dan kondusif ini, ternyata “bara” dalam rumah tangga cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, kota Madinatul Iman menjadi kota dengan tingkat perceraian yang tinggi, masih menduduki peringkat ke-4 di antara kota-kota se-Kalimantan. Dari tahun ke tahun, percerian terus naik. Dan yang menyedihkan lagi, kasus perkawinan di bawah umur akibat “kecelakaan”, juga marak.

Di mana, remaja putri belasan tahun yang seharusnya sekolah, putus sekolah gara-gara hamil di luar nikah, atau yang dikenal dengan MBA (married by accident). Dari data yang dihimpun Balikpapan Pos di Pengadilan Agama (PA) kelas I A Balikpapan, tahun 2012, tercatat 2.035 kasus cerai, atau naik 191 kasus dibanding tahun 2011 yang hanya 1.994 kasus. Dan tahun ini, diprediksi, perceraian naik drastis.

Hal ini terlihat dari data terbaru dari Januari hingga Maret 2013. Hanya 3 bulan, sudah masuk 563 kasus perceraian. Untuk diketahui lagi, sebanyak 2.035 kasus cerai, yang paling banyak menggugat cerai adalah pihak istri. Kepala Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Kota Balikpapan Baihaqi SH mengungkapkan, kasus perceraian di Balikpapan selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. “Kalau perceraian, semakin lama semakin meningkat.

Ya faktornya bermacam-macam,” ungkap Baihaqi saat ditemui Balikpapan Pos di ruang kerjanya, siang kemarin. Pria yang bertugas di PA Kelas IA Balikpapan sejak tahun 2010 silam ini menjelaskan, untuk beberapa faktor pemicu bubarnya pasangan didominasi tidak adanya tanggung jawab dari salah satu pihak, baik itu suami maupun istri. Dari data bulan Maret 2013 misalnya.

Dari jumlah total 100 laporan yang diterima, tidak adanya keharmonisan menduduki peringkat pertama dengan 39 persen, disusul dengan lepasnya tanggung jawab baik dari segi ekonomi dan kawin paksa. Padahal menurut Baihaqi, semua pelapor yang hendak mengikuti sidang lebih dulu diikutkan jalur mediasi atau celah perdamaian agar perceraian tak terjadi. “Kami berikan kesempatan buat mediasi.

Semisal sang istri menggugat cerai, tapi suami masih sayang, maka kami berikan waktu 40 hari untuk berdamai. Jika masih gagal, kami tambah 15 hari lagi. Tapi kalau tetap tidak bisa, maka ada proses lagi persidangan,” jelas pria yang sebelumnya bertugas di Samarinda. Kembali ia memaparkan, tingkat perceraian di Balikpapan, masih di bawah Kota Samarinda.

Baihaqi menuturkan, lepasnya tanggung jawab, disebabklan oleh adanya pernikahan usia dini yang semakin trend di kalangan masyarakat. Pasalnya, banyak remaja yang seharusnya belum cukup usia untuk menikah, namun harus dinikahkan karena keterpaksaan. “Maaf, pergaulan saat ini semakin bahaya. Banyak yang akhirnya hamil di luar nikah, padahal usia masih sangat muda dan inilah yang membuat rasa tanggung jawab berkeluarga masih begitu minim,” paparnya.

Padahal untuk usia minimal seorang pengantin wanita harus berusia 16 tahun dan 19 tahun untuk mempelai pria. Namun, dengan adanya kenyataan saat ini, diakuinya memang lebih banyak usia pernikahan yang masih seumur jagung, sudah memilih untuk bercerai. Beberapa cara untuk mengurangi angka perceraian sendiri diakuinya sudah ada. Termasuk dengan melakukan sosialisasi ke Kelurahan-kelurahan di Balikpapan.

Dan dalam sosialisasi tersebut biasanya ada tim yang dikirim untuk membahas terkait membina keluarga yang harmonis, dampak perceraian bagi kedua belah pihak dan sebagainya. Data kasus perceraian di Kota Balikpapan, juga dipaparkan oleh salah seorang hakim PA, Marjuki, dalam rapat koordinasi antar RT di Kelurahan Batu Ampar, malam kemarin.

Dalam paparannya hadapan Lurah Batu Ampar Zulkifli dan puluhan Ketua RT, Marjuki menyampaikan keprihatinannya bahwa perkawinan di bawah umur sedang marak. Untuk tahun 2012, terjadi 117 kasus perkawinan bawah umur. Dari kasus tersebut, diantaranya harus dilakukan penetapan Wali Hakim melalui sidang di PA. Wali hakim adalah pihak yang akan menikahkan si pengantin karena orangtua menolak menjadi wali.

“Pengadilan Agama terpaksa menetapkan wali hakim karena orangtuanya tidak mau menikahkan anaknya. Dalam sidang, hakim sudah memberikan penegasan. Apa tidak malu yang menikahkan wali hakim karena orangtua tidak mau menikahkan anaknya. Dikasih tahu begitu, tidak sedikit orangtua yang tetap menolak menjadi wali untuk anaknya. Terpaksa hakim menunjuk wali hakim untuk menikahkan anaknya,” ujar Marjuki.

Marjuki juga mewanti-wanti agar para orangtua yang mempunyai anak-anak remaja agar ketat menjaga pergaulan anaknya, agar tidak terjadi salah pergaulan hingga terjadi kehamilan bawah umur. “Kalau zaman dulu, orangtua memaksa anaknya menikah. Lha, zaman sekarang terbalik. Anak yang memaksa orangtuanya untuk menikahkan anaknya,” pungkas Marjuki.(ono/rem)

 
OTHER NEWS
Kamis, 02 Oktober 2014 , 03:18:00

LAKA KM 24, MAKAN DUA KORBAN

BALIKPAPAN– Pengendara bermotor sebaiknya meningkatkan kewaspadaan saat melintas di Km 24 Jl Soekarno-Hatta. Jalan yang perawatannya menjadi tanggung jawab Negar ...

Kamis, 02 Oktober 2014 , 03:18:00

Gara-gara Sopir Mengantuk

BALIKPAPAN–Ari Fitri Juniansyah –disapa Ari (27), sopir mobil yang menabrak penjual buah naga di Km 24 Jl Soekarno-Hatta hingga terpental dan membuat kaki ...

Kamis, 02 Oktober 2014 , 03:16:00

Pencuri Lintas Provinsi Dicokok

TANA PASER–Jajaran Satreskrim Polres Paser, berhasil membekuk dua orang tersangka pencuri lintas provinsi yakni MK (39) dan RC (21). Keduanya melakukan kejahatan ...

Kamis, 02 Oktober 2014 , 03:12:00

Pasangan Kumpul Kebo Dirazia

BALIKPAPAN-Razia gabungan yang digelar pihak Kecamatan Balikpapan Barat (Balbar) pada Selasa (30/9) malam, tak hanya menjaring warga pendatang. Operasi gabungan meliba ...

Kamis, 02 Oktober 2014 , 03:12:00

Penikam ABG Masih Berkeliaran

BALIKPAPAN-Pihak Polsek Barat bekerja keras untuk menangkap pelaku penikaman terhadap Matsir, anak baru gede (ABG) yang menjadi korban tawuran pada Sabtu (20/9) pukul ...

 
SUPER LIGA
Saatnya Hancurkan Al Qadsia
JAYAPURA- 90 menit untuk mencetak sejarah baru sudah ada di dalam benak anak-anak Persipura, Boaz ...
Other
 
Kaltim
Pancasila Sebagai Sumber Hukum
PENAJAM- Bupati Penajam Paser Utara (PPU) H Yusran Aspar menjadi inspektur upacara pada Hari Kesa ...
Other
 
Metropolis
Hati-hati, Kendaraan Langsung Ditilang dan Derek
BALIKPAPAN - Ini peringatan keras bagi sopir yang doyan parkir di sembarangan tempat baik di bada ...
Other
 
Kecamatan
Menunggu Perbaikan Jalan Gunung Steling
BALIKPAPAN- Warga Gunung Steling  Kelurahan Gunung Samarinda, Kecamatan Balikpapan Utara&nbs ...
Other
 
Copyright © 2011 MLink Balikpapan. All Rights Reserved.
1